Thursday, April 19, 2007

TPA Kobe

Hari ini tiba-tiba kangen ama adek2 TPA Kobe, haha... berasa kayak ibu aja, yg lama pisah ma anaknya ;p. Tapi 2 minggu alias setengah bulan lho aku ga ketemu mereka. Rasanya kayak lama banget, trus deg2an ..`wah mereka sudah sampai mana ya belajarnya.. :) `.Sudah sampai huruf hijaiyah mana?`, `trus asmaul husna-nya?`, `Dapet cerita apa dari sensei?`...
Hari minggu ini insyaAllah ketemu mereka. Kali ini kelas TPA jadi prioritas over my job. Hari minggu seharusnya harus berangkat tugas keluar kota ke beppu, tapi ya berhubung ada kelas, selesai ngajar...baru cabut. Alhamdulillah bisa ktemu lagi ma anak2...
Entah kenapa seneng banget.. menyejukkan sekali ngeliat mreka....

Monday, April 16, 2007

Back to Blog

Ga terasa sudah 6 bulan mengadu nasib di Osaka. Duh bahasane.. ;p. Tiap pagi jadi pendekar2 kereta yang berduyun2, kayak semut memenuhi jalur transportasi kota. Tugas demi tugas, project demi project, meeting demi meeting, ... sudah banyak yang terlalui ya.
Banyak yang bilang, mega sibuk banget, mega susah dihubungi, mega menghilang...halaaah... aku masih disini. Mungkin memang iya, banyak rutinitas jaman kuliah yang hilang ditelan hidup, salah satunya adalah chatting dan email. Dan yang paling mengenaskan adalah MEMBACA. aku jarang membaca akhir2 ini. :(
Kutanya dalam2 hatiku, apa iya akhir2 ini aku berlari terlalu kencang...hingga tak sempat kunikmati perjalananku? Berangkat pagi, pulang malam.... begitu terusss...seakan ga pernah berakhir.
Namun ternyata enggak juga (wah lega), aku masih bisa menikmati ketemu2 adek2 TPA di Kobe, yang bikin aku luluh, ketawa dengan anak2 yang masih belajar A BA TA TSA. Kemudian bergembira atas progress mereka. Wah sudah hafal sampai JA. Lha wong mamahku aja tak ajak masuk kelas sekali aja, terngingang-ngingang siang dan malam, lucunya adek2 itu belajar koq.
Masih bisa jalan bareng2 temen2, dan berburu makanan enak, trus purikura (photo box Jepang).
Yah namun di sisi lain, memang akhir2 ini aku ga sempat belanja santai, ga sempat masak santai. Hobinya ganti deh, sekarang lagi hobi berburu restoran enak, yang kalo kita makan...wuaaah enaknnya nyampe ke hati....puassss gitu.
Trus aku lagi suka jahit menjahit...hehe, padahal dulu paling ga suka. Wah sekarang...apa yang bisa aku jahit pun aku jahit. Celana robek, baju robek? Sini..sini monggo.
Anyway, yah hari ini pokoknya, lagi thinking about work-love... eh work-life balance nih.
Weekend kmaren ga libur, besok minggu ga libur, ... tugas keluar kota banyak.
Ada satu hal yang suka kepikiran akhir2 ini, `kayaknya pekerjaanku sekarang ini adalah pekerjaan yang ga bisa aku lakukan kalo aku sudah menikah`. Kalo sekarang mah, asik2 aja...tugas keluar, anggep aja jalan2 lah..., tokyo-osaka mah deket...hehe. Abis tadinya sempet down juga, lha wong base-ku di Osaka, koq banyak sub-main activity-ku yang base-nya di Tokyo. Apa coba maksudnya??? Awal2nya aku suka langsung down fisik kalo misalnya tugas luar sehari penuh. Misalnya sebagai contoh Jakarta-Palangkaraya... berangkat pagi, trus malemnya pulang. Wah pagine suka down... ! Sekarang mah udah lebih biasa, walo masih suka down juga. hehe
Nah, mumpung belum menikah.. (hehe.. not a good reason?), jadi nikmati lah. Kalo dah menikah, ga perlu membanting tulang sekeras ini..hehehe, wis percaya suami aja ;p. Hehe...bukan begitu sih, cuma suka ngerasa aja kerjaanku sekarang ga cocok buat wanita menikaaah...!!!!
.gmana dong!!!!


mega
-enjoylife!

Tuesday, April 10, 2007

Mengenal Budaya Jepang (1)

Masih lekat dalam ingatan, ketika pertama kali mendarat di Jepang, dan aku keheranan, `kenapa orang Jepang model rambutnya sama semua. Lurus, dan dicat pirang`.
Baru di kemudian hari, aku mengerti bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat yang homogen. Homogen dalam cara berpikir, bersosialisasi, mungkin termasuk model rambut itu tadi. Pokoknya ga boleh kelihatan berbeda lah. Kehomogenan itu tadi dapat dilihat dari hal-hal kecil yang banyak aturannya. Dari cara mereka memberikan greetings, cara bertukar kartunama, bahkan dalam mengirim email resmi pun, ada kata-kata yang seakan-akan harus digunakan. Jadi kalau kirim email ya cuma begitu-begitu saja. Dalam hal berpikir juga seperti itu, seakan-akan punya pendapat yang berbeda itu tabu. Mungkin nilai-nilai ini sudah mulai bergeser, namun tetap saja masih bisa dirasakan.
Berkaitan dengan `pokoknya ga boleh beda itu tadi`, ada fakta yang cukup menarik. Taukah teman-teman, kalau kasus `ngerjain temen` atau bullying, atau dalam bahasa jepang disebut ijime, adalah kasus yang sangat serius dalam pendidikan Jepang? Sangat serius karena mengerjainya sudah pada level cukup parah, bahkan ada yang sampai bunuh diri. Nah, kemudian orang seperti apakah yang suka dikerjain? Ternyata menurut survey tidak resmi yang saya tanyakan pada teman-teman saya orang Jepang, yang suka dikerjain adalah orang-orang yang kelihatan berbeda. Beda dalam hal apa? Wah ini bisa macam-macam. Tapi yang masih sangat saya ingat adalah cerita dari teman host-sister saya. Teman adek saya itu keturunan Jepang-India, dan dari segi penampilan jauh berbeda dari orang Jepang kebanyakan. Tinggi, dan mukanya khas India sekali. Menurut penuturan dia, dari kelas 1 SD sampai SMP kelas 3 dia selalu jadi sasaran dikerjain temen. Tidak terbatas pada kasus teman adek saya, bentuk `ijime` itu macem2, dari dibilang `bodoh..bodoh!`, atau `kita ga ngerti deh kamu ngomong apa?`, sampai `mati aja deh!`. Dari sekedar kata-kata sampai, dikunci bareng2 dalam gudang atau kamar mandi. Dan anehnya lagi, guru atau teman-teman lain ga ada yang membela, dengan dalih ga ada artinya. Setiap mendengarkan cerita ijime, aku rasanya geram sekali. Anehnya lagi, yang dikerjain tuh mengaku `saya tidak apa-apa. Saya menikmatinya.`. Yang benar saja? Mungkin saya juga harus memahami cara berpikir bahwa dikerjain itu mengasyikkan.
Kembali ke masalah homogenitas tadi, dari cerita ijime itu, sedikit banyak dapat disimpulkan kehomogenan itu sudah mulai terbentuk sejak mereka kecil. Dari SD sampai SMP (kadar menurun ketika SMA), mereka dilatih untuk JANGAN SAMPAI BERBEDA.
Kehomogenan, atau cara pikir homogen juga saya rasakan di tempat perusahaan saya bekerja. Ada kecenderungan ide, usul, pendapat mereka sangat tidak berbeda, alias sama, alias begitu-begitu saja. Dan satu lagi yang menurut saya sangat sangat menghambat perkembangan diri seseorang, kehomogenan itu membuat orang Jepang `takut salah`, dan akibatnya `takut melangkah`, dan `tidak berani mengambil resiko. Jujur saja, ini sempat saya rasakan ketika pertama kali masuk. Berhubung orang baru, dan belum tau banyak, jadi serba takut untuk mencoba karena takut salah. Bukan aku banget kan . Begitu sadar, hehe...... saya tidak peduli, ga takut salah deh. Kalau saya salah, tolong ingatkan. Dengan begitu, saya merasa lebih cepat belajar, dan berkembang.

InsyaAllah bersambung

Friday, February 23, 2007

Tatta Ichi Do no Jinsei

Tatta Ichi Do no Jinsei = One time Life

Tadi siang siap2 ilmu buat acara hari minggu. Acara bertajuk GL-net Kansai ini, acaranya anak2 KUMON. Kalo dijelasin agak panjang e, silakan liat website-nya aja (japanese only) www.gl-net.org
Kalo kamu buka websitenya, pasti akan membaca kata2 ini `Tatta Ichi Do no Jinsei`
Memang ya, hidup ini cuma sekali. Taisetsu ni shinakya ne. Subarashii mono ni -.
Kita harus bikin hidup ini bermakna, biar ga menyesal.

Aku juga,
ingin menghadapi semuanya dengan semangat.
dengan optimisme.


mega

ps: lama sekali tak menulis.
 
Lilypie Maternity tickers