Jujur saja, sudah 2 bulan aku tidak mengajar di masjid kobe. Karena selama 2 bulan itu aku hampir ga ada libur, dan kebetulan juga kids quran class libur musim panas.
Hari ini Alhamdulillah aku mulai mengajar lagi. Dan telat :D. Ketika aku memasuki kelas, bahagia rasanya... mendapati anak2 yang menyambutku dengan antusias, ekspresi mukanya seakan bilang, "Sensei dataaang!" (hehe GR ni, tapi bener aku ga lupa ekspresi wajah mereka. Senyum dan alis terangkat gt hehe).
Hari ini kami bercerita tentang golongan2 awal yang masuk Islam, dan bagaimana unbelievers harm the believers. Apalagi untuk para budak yang masuk Islam, yang mereka ga punya so much power to defend themselves. Disiksa di padang pasir yang panas, dengan batu diatas mereka. "If you throw your religion, I will give you much money and you can be very rich" said the unbelievers.
Kemudian aku bertanya pada anak2, "Bayangkan, kalau kalian adalah orang2 yang disiksa itu, apa yang akan kalian katakan? Bagaimana kalau ditawari uang yang banyak?".
Anak2 antusias, dan berebut menjawab, "I know what I will say" tangan2 teracung ke atas.
Salah seorang berkata, " I will cross my fingers, and said that I will leave Islam, and get the money. But of course once they release me I will announce that I am still moslem". Anak kelas 4 SD itu puas banget dengan jawabannya.
Anak yang lebih besar menyahut, "Yes, I will pretend that I leave Islam, become rich, get some bodyguads, and nobody will harm me again!"
Aku sampai geli sendiri liat antusiasme anak2 itu, dan ngerasa kalo jawaban mereka bener2 tipe jawaban anak2 abad 21 hehe.
Ketika aku bilang bahwa Rasulullah juga mendapat beberapa gangguan. Mereka berenspon seakan tidak percaya, "Rasulullah juga?". "Iya, tapi jenis gangguannya beda" tambahku. Tapi aku suka banget dengan response mereka seakan ga percaya orang semulia Rasulullah juga diperlukan tidak hormat. Good job, kids :)
The story goes and reach the conclusion. Diajaklah anak2 belajar dari believers jaman dahulu, yang teguh memegang agamanya. Apakah kita bisa seteguh mereka? Kadang2 masih ada diantara kita yang malu mengaku sebagai orang muslim! (ini case anak2 muslim di Jepang, dan sungguh memang tidak mudah tantangan mereka. Anak2 sekecil itu...). Kupandangi satu persatu wajah mereka. Yang masih TK atau kelas 1 SD, ga berubah roman wajahnya, mereka malah asyik ngobrol ama teman sebelahnya. Aku ga menegur, karena anak2 itu hebat, kalo tak suruh ngulang apa yang aku bilang, mereka tetap bisa walo keliatan tdk mendengarkan hehe. Yang udah SMP, tersenyum malu... hehe, kami berbicara lewat tatapan mata.
"If you feel shy about your religion, they will not respect your religion!". "If you dont respect your religion, they will not respect your religion".
Tiba2 kulihat seorang ibu menangis di sudut kelas. (loh koq yang nangis ibunya, deg!).
Selepas kelas kusapa beberapa wali murid yang hadir hari itu termasuk ibu yang menangis, wajah baru yang baru kulihat itu. Kusapa dia dengan bahasa jepang, dan dia menjawab, "Eh..lho, dariii malaysia?". Aku kaget, "Dari Indonesia, loh ibu dari mana?". "Indonesia" jawabnya.
Perjumpaan itu membawa kami ke sebuah diskusi yang cukup intens (curhat ding, aku mendengarkan). Tentang perjuangannya mengajak suami yang orang Jepang untuk menjalankan Islam.
"Kalo bisa jangan menikah dengan orang jepang deh. Cari yang seiman dari awal saja." begitu nasehatnya. Aku menghiburnya dengan mengatakan insyaAllah ada pahala bonus bila bs membantu seseorang mendapatkan hidayah.
"Mba, saya mah ga mikir pahala2 deh. Saya cuma pingin hidup tenang, menjalani rumah tangga sepaham, selaras. Bisa melakukan ibadah sama2. Itu aja"
Di setiap kata2nya, disertai airmata, yang udah setengah mati dia tahan tapi tetap jatuh. Rasanya tulus banget. She looks very beautiful. She promised to come every sunday, InsyaAllah.
Ketika pamitan, baru mau pamit dah nangis lagi. MasyaAllah, Bu. Semoga dimudahkan jalan ibu ya...Amiiin
Masjid kobe membawa banyak cerita. Di satu waktu, datanglah orang muslimah yang mendapat anak dari mulimah lain, dan mengadu gimana dia harus mendidik tauhid padanya, di satu waktu seseorang menangis tersedu2 dengan bahasa inggris yang kepayahan sehingga aku butuh waktu lama mencerna ceritanya, di satu waktu datang orang2 yang kehausan berita tentang iraq, afghanistan, dan jihad, di waktu yang lain datanglah rombongan murid SMP belajar tentang Islam.
Tentu saja istri Imam yang melayani konsultasi spt itu, saya cukup menterjemahkan. Namun sungguh semuanya membawa pelajaran bagiku. Sebuah pengalaman yang patut disyukuri.
Alhamdulillah...
kobe, Sept 14, 2008
mega
Monday, September 15, 2008
Sunday, September 14, 2008
Ramadhan yang selalu Kau buat indah untukku
Ini Ramadhan ke-7 ku di negeri Sakura. Dan Subhanallah tiap tahunnya indah. Kalo harus menuliskan dsini moment2 keindahannya, bakal panjang deh. : ) Alhamdulillah, yang paling saya syukuri dari dulu sampai sekarang adalah kehadiran teman2 yang bisa diajak saling menyemangati. Jadi walo ga ada keluarga, ga sepi2 amat :). Dan alhamdulillah selalu didekatkan Allah ke tempat taraweh dan kumpul2 muslim muslimah gt. Waktu dulu aku tinggal di AP hoz, buka dan tarawih di AP hoz, waktu dah pindah ke kamegawa, eee.. kegiatang ramadhan koq ya pas dipindahin ke kamegawa. Jadi tetep bs ikutan.
Sekarangpun disini, masyaAllah sangat didekatkan. Tinggal naek sepeda 10 menit nyampe deh pusat kegiatan Ramadhan mahasiswa2 univ. Osaka. Kalau mau naek bis 10 menit, nyampe deh di osaka mosque. Sungguh penuh rasa syukur, bs diberi akses ibadah yang mudah.
Walopun aku ga melulu ikut kegiatan yang dekat2 sih. Malah kadang2 yang dekat ga sempat bs menghadiri. Tiap weekend, -patut disyukuri- undangan buka bersamanya banyak, tumpuk2. Jadi harus milih mo datang yang mana. Soalnya aku agak mendua, ikut perkumpulan Osaka, dan juga Kobe..hehe. Just happened like that. Belum lagi undangan KMII kansai, KJRI, dan undangan2 pribadi.
Dan lucunya lagi, kan aku sering tugas ke tokyo juga, jadi aku sering ikut kegiatan di tokyo. Rutin tiap tahuun, jd kadang2 berasa bagian komunitas dsana ;p
Oh ya, dari tujuh tahun itu, baru ramadhan kali ini aku ga pulang ke Beppu. Selama 6 tahun yang lalu, dimanapun aku berada, selalu aku luangkan pulang ke Beppu sekedar menikmati ramadhan dsana. Di Beppu, ada kebahagian dan kenangan abadi Ramadhan yang ga terlupakan. Ah, bener2 ga ada duanya. Dahsyat!!!
Oh ya, kalo pulang ke Beppu pas ramadhan tuh, aku memilih naek kapal. Trus nanti malem2 naek ke geladak kapal, sholat malam dibawah bintang2 waaaaaaaaah romantis lho. Try it. Diiringi musik debur ombak, dan keheningan malam. Terasa diri ini yang begitu kecil.
Tahun ini, sempat bingung banget mo pulang ke Beppu pa enggak. Tapi akhirnya kuputusin enggak. Dan ternyata ada hikmah di balik semua itu. Aku bertemu dengan seorang ibu. Mungkin Allah ingin aku bertemu dengannya. Luar biasa!
Terimakasih Allah untuk setiap detik rahmat Ramadhan-mu!
Untuk teman2, lets try harder and harder! Untuk teman2 yang berada di lingkungan minoritas, indah kan? Perjuangan kita ini indah. : ) InsyaAllah...
mega
Sekarangpun disini, masyaAllah sangat didekatkan. Tinggal naek sepeda 10 menit nyampe deh pusat kegiatan Ramadhan mahasiswa2 univ. Osaka. Kalau mau naek bis 10 menit, nyampe deh di osaka mosque. Sungguh penuh rasa syukur, bs diberi akses ibadah yang mudah.
Walopun aku ga melulu ikut kegiatan yang dekat2 sih. Malah kadang2 yang dekat ga sempat bs menghadiri. Tiap weekend, -patut disyukuri- undangan buka bersamanya banyak, tumpuk2. Jadi harus milih mo datang yang mana. Soalnya aku agak mendua, ikut perkumpulan Osaka, dan juga Kobe..hehe. Just happened like that. Belum lagi undangan KMII kansai, KJRI, dan undangan2 pribadi.
Dan lucunya lagi, kan aku sering tugas ke tokyo juga, jadi aku sering ikut kegiatan di tokyo. Rutin tiap tahuun, jd kadang2 berasa bagian komunitas dsana ;p
Oh ya, dari tujuh tahun itu, baru ramadhan kali ini aku ga pulang ke Beppu. Selama 6 tahun yang lalu, dimanapun aku berada, selalu aku luangkan pulang ke Beppu sekedar menikmati ramadhan dsana. Di Beppu, ada kebahagian dan kenangan abadi Ramadhan yang ga terlupakan. Ah, bener2 ga ada duanya. Dahsyat!!!
Oh ya, kalo pulang ke Beppu pas ramadhan tuh, aku memilih naek kapal. Trus nanti malem2 naek ke geladak kapal, sholat malam dibawah bintang2 waaaaaaaaah romantis lho. Try it. Diiringi musik debur ombak, dan keheningan malam. Terasa diri ini yang begitu kecil.
Tahun ini, sempat bingung banget mo pulang ke Beppu pa enggak. Tapi akhirnya kuputusin enggak. Dan ternyata ada hikmah di balik semua itu. Aku bertemu dengan seorang ibu. Mungkin Allah ingin aku bertemu dengannya. Luar biasa!
Terimakasih Allah untuk setiap detik rahmat Ramadhan-mu!
Untuk teman2, lets try harder and harder! Untuk teman2 yang berada di lingkungan minoritas, indah kan? Perjuangan kita ini indah. : ) InsyaAllah...
mega
Sunday, August 24, 2008
dengan hati...
Alhamdulillah, menjelang Ramadhan, banyak peristiwa yang mengasah hati. Untuk bersabar, untuk memahami, untuk berbesar hati, untuk memaafkan : ). Banyak cobaan Allah lewat hati menjelang Ramadhan ini, tapi berarti Allah sangat sayang..., membuatku mengasah hati, menggunakan hati, melembutkan hati.
Ramadhan sudah dekat, yang berada di lingkungan minoritas, saatnya kerja keras! Kalo enggak, Ramadhan akan berlalu begitu saja. Yuks!!! Oh ya teringat satu lagi..., hmm.. wah Allah tuh sayang banget ternyata. Baru mau aku "usaha", Allah sudah kasih peluang2 di depan mata. Aku jadi paham maksudNya. :) (koq postingannya jadi monolog gini :p).
Begini lho maksudnya temen2, kan kalo di masyarakat yang islamnya minoritas kan jadi agak ga kerasa suasana Ramadhannya. Nah biasanya aku hubungi teman2 muslim dan muslimah, sekedar bareng2 ke masjid, tukar2 bahan kajian (kmaren di masjid isi kajiannya begini), sekedar inep-inepan, sahur bareng buka bareng. Nah kmaren tu blm sempat aku hubungin teman2ku itu, udah pada hubungin aku untuk hal lain (bukan tentang Ramadhan, bahkan alasannya konyol2, sperti misalnya temenku nyasar di osaka trus telpon aku;p), tapi dari situ jadi ngomongin Ramadhan, dan tercetuslah ide2 kita, bahkan sempat tukar isi kajian yang inspiratif. Begitu, koq yo ndilalah Allah membuat temenku menelponku karena nyasar, dan jadi kita ngomongin Ramadhan. Ya begitulah contohnya : )
with love and full of spirit,
mega
Ramadhan sudah dekat, yang berada di lingkungan minoritas, saatnya kerja keras! Kalo enggak, Ramadhan akan berlalu begitu saja. Yuks!!! Oh ya teringat satu lagi..., hmm.. wah Allah tuh sayang banget ternyata. Baru mau aku "usaha", Allah sudah kasih peluang2 di depan mata. Aku jadi paham maksudNya. :) (koq postingannya jadi monolog gini :p).
Begini lho maksudnya temen2, kan kalo di masyarakat yang islamnya minoritas kan jadi agak ga kerasa suasana Ramadhannya. Nah biasanya aku hubungi teman2 muslim dan muslimah, sekedar bareng2 ke masjid, tukar2 bahan kajian (kmaren di masjid isi kajiannya begini), sekedar inep-inepan, sahur bareng buka bareng. Nah kmaren tu blm sempat aku hubungin teman2ku itu, udah pada hubungin aku untuk hal lain (bukan tentang Ramadhan, bahkan alasannya konyol2, sperti misalnya temenku nyasar di osaka trus telpon aku;p), tapi dari situ jadi ngomongin Ramadhan, dan tercetuslah ide2 kita, bahkan sempat tukar isi kajian yang inspiratif. Begitu, koq yo ndilalah Allah membuat temenku menelponku karena nyasar, dan jadi kita ngomongin Ramadhan. Ya begitulah contohnya : )
with love and full of spirit,
mega
Tuesday, August 19, 2008
Jilbab is my freedom!
Apa jilbab tidak membatasi, mba? Apa jilbab tidak mengurangi eksistensi kamu di masyarakat? Apa jilbab tidak mengurangi kesempatan yang sebenarnya lebih luas bagimu?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah sering saya dapatkan. Bahkan sejak saya belum pakai jilbab, saya sudah sering dengar dari mamah tentang anggapan jilbab yang membatasi. Mamah pernah bilang, "Pake jilbab kalo sudah menikah saja" dan suatu saat komentarnya berubah menjadi, "Pake jilbab setelah tingkat 2 kuliah saja". Komentar yang membuat saya mengerti bahwa ada anggapan di masyarakat bahwa jilbab membuat seret jodoh (menarik ya! Semoga anggapan itu sudah mulai luntur, karena saya dengar komentar dari mamah sudah hampir 8 tahun yang lalu). Lantas apa hubungannya dengan tingkat 2 mahasiswa? Kalo itu malah saya belum sempat nanya ke mamah, cuma bisa berhipotesa :p.
Nah, balik lagi ke pertanyaan2 diatas. Lalu apa jawaban saya terhadap pertanyaan2 tadi, maupun anggapan2 dalam masyarakat tersebut?
Bagiku, dari pengalamanku selama ini, ya jawabannya insyaAllah sudah jelas. Jilbab tidak membatasi, dan anggapan2 tersebut salah. Jawaban mantap kayak gini memang hanya bisa diberikan oleh orang2 yang sudah merasakan sendiri hehe. Dan banyak yang punya anggapan salah tentang jilbab, belum pernah mencobanya sendiri!
Mari kita uraikan satu-satu.
Membatasi dalam hal sekolah? Toh banyak wanita berjilbab yang jadi doktor atau professor. Banyak juga kutemui wanita-wanita berjilbab yang berprestasi. Dari pengalamanku sendiri, berjilbab bisa juga dapat visa kuliah di LN. Bisa juga kok dapat nilai bagus, bisa juga jadi asisten dosen, bisa juga dapat kepercayaan dari dosen-dosen. Bisa juga diundang presentasi ke forum2 dalam dan luar negeri, bisa juga diundang jadi narasumber. So, membatasinya dimana?
Membatasi dalam berorganisasi? Banyak juga wanita berjilbab yang memimpin organisasi. Saya juga mempunyai pengalaman yang sama. Bisa juga diundang dalam forum-forum nasional dan internasional. So?
Membatasi dalam mendapatkan pekerjaan? Aduh, banyak koq wanita berjilbab bekerja. Saya sendiri kerja di perusahaan asing, no problem tuh.
Kalo tidak dapat kerja jangan nyalahin jilbab dong. Lagian tidak pake jilbab juga banyak yang tidak diterima kerja koq. Kalo memang pernah ditolak kerja gara-gara jilbab (saya pernah punya pengalaman ditolak part-time), ya itu ujian dari Allah. Dan pastikan anda harus lulus!!!:)
Setiap orang kan ujiannya beda-beda, siapa tahu waktu itu lewat jilbab.
Yang jelas, tidak setuju kalo jilbab membuat kita tidak bisa bekerja. Toh buktinya bahwa wanita berjilbab yang bekerja sudah banyak kan?
Membatasi dalam bergaul? Ok, kita bicara dari pengalamanku ni ya. Sama sekali ga membatasi tu. Saya punya banyak teman dari berbagai negara dari ivory coast sampai tonga atau samoa, dari jewish sampai yang ga punya agama, dari gay sampai lesbi (yang bener? hehe), pokoknya saya punya banyak temen yang gaya dan prinsip hidupnya berbeda dengan saya, tapi tetep aja tu temenan. Dan surprise-nya, justru teman-teman itu kalo sedang punya masalah, curhatnya ke aku, dan aku jadi sadar bahwa manusia tu punya fitrah, dan yang bisa men-guide manusia sesuai fitrahnya tuh ya Islam. Kadang jelas banget masalah2 yang mereka hadapi itu sumbernya karena mereka ga punya guidance of life. Dan sering dengar komentar dari mereka, "Bener juga ya Meg prinsipmu. Aku jadi ngerti kenapa kamu...bla...bla".
Saya sering maen ma temen2, abis ngobrol, mereka berangkat clubbing. Dan sampai saat ini belum pernah ikut sih hehe.
Pokoknya dari pengalaman saya sih, justru mereka itu akan sangat menghargaimu dan prinsip2 hidupmu.
Kalo membatasi dari pergaulan yang salah, ya malah bagus kan? Mabuk-mabukan, sex bebas dll.
Sampai saat ini saya belum pernah clubbing ya mungkin karena jilbab juga lho. Sebetulnya sering mikir, pingin sekali-sekali ikut pergi..hehe, pingiiin tau! Terakhir kemarin malem ni, temen2 pergi clubbing, tapi akhirnya aku ga ikut, karena capek banget abis dinner party ma mereka. Pokoknya kalo mo clubbing tu mikirnya pasti capek tuh lho, kan mesti sampai pagi. Lagian males banget bawa pulang temen2 yang mabuk. Ah tidak...!
Membatasi jodoh? Kalo dibatasi jadi mendapat jodoh yang baik kan gpp kan. Mempermudah seleksi. Wis tenan kalo masalah ini benar-benar terbukti efektivitasnya hehe. InsyaAllah jadi ga diganggu cowok iseng deh.
Oh ya 10 hari terakhir ini aku dapat pengalaman menarik. Ada 3 cowok minta dibantuin cari jodoh (tapi aku bukan biro jodoh-red). Dan 3 cowok tersebut standard lah, suka flirting, suka merayu cewek, peluk sana peluk sini gitu lah. Tapi surprise-nya, ketika aku tanyain kriteria mereka, koq ya kriteria mereka tuh "gadis baik2", bukan tipe cewek2 yang bisa di-flirting-in ma mereka. Jadi ketika aku mengajukan nama2 cewek di lingkungan pergaulan mereka, langsung bisa out semua gitu. "Cewek yang bs diajak jalan dan diajak menikah kan beda, Meg". Oh I see..., batinku. Jadilah susah banget nyariin jodoh buat mereka, sedang di satu sisi pingin bantu sih, kayaknya sudah desperate gitu mereka hehe. Lagian sepertinya mereka bisa kembali pada" jalan yang benar". :D Ada yang tertarik? Tiga-tiganya bukan orang indonesia dan bukan orang Jepang, bersedia menikah with any nationality hehe.
Membatasi dalam hal apa lagi ya? Having fun? Hehe bisa aja lagi. C`mon, we are happy and having fun too.
Sudah terlalu lama jilbab disalahartikan. For those who are seeking only His Grace and affection, InsyaAllah you will find peace in your heart. InsyaAllah, jilbab itu anugerah dan kasih sayang Allah untuk perempuan.
Wah mega sudah bisa ngomong begini dengan mantapnya, diblog lagi hehe, semoga mulai saat ini pun bisa menghadapi ujianNya dengan sebaik-baiknya. Untuk saudara-saudara muslimahku, sudah saatnya kita buktikan eksistensi kita. Untuk saudara-saudara muslimahku yang hidup menjadi minoritas, keep on fighting!
"kita berusaha yang terbaik, dan insyaAllah Allah pasti kasih kemudahan"
Oh ya bener tu Allah pasti kasih kemudahan, yang saya sebutkan tadi kan cuma fakta-fakta ya. Tapi sebetulnya akan banyak "romantisme" denganNya dalam prosesnya. Pokoknya it is amazing, and sometimes unbelieveable deh tentang gimana Allah memudahkan jalanmu. Find it out by yourself!
Mega
-semoga bisa sedikit menjawab request selama ini-
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah sering saya dapatkan. Bahkan sejak saya belum pakai jilbab, saya sudah sering dengar dari mamah tentang anggapan jilbab yang membatasi. Mamah pernah bilang, "Pake jilbab kalo sudah menikah saja" dan suatu saat komentarnya berubah menjadi, "Pake jilbab setelah tingkat 2 kuliah saja". Komentar yang membuat saya mengerti bahwa ada anggapan di masyarakat bahwa jilbab membuat seret jodoh (menarik ya! Semoga anggapan itu sudah mulai luntur, karena saya dengar komentar dari mamah sudah hampir 8 tahun yang lalu). Lantas apa hubungannya dengan tingkat 2 mahasiswa? Kalo itu malah saya belum sempat nanya ke mamah, cuma bisa berhipotesa :p.
Nah, balik lagi ke pertanyaan2 diatas. Lalu apa jawaban saya terhadap pertanyaan2 tadi, maupun anggapan2 dalam masyarakat tersebut?
Bagiku, dari pengalamanku selama ini, ya jawabannya insyaAllah sudah jelas. Jilbab tidak membatasi, dan anggapan2 tersebut salah. Jawaban mantap kayak gini memang hanya bisa diberikan oleh orang2 yang sudah merasakan sendiri hehe. Dan banyak yang punya anggapan salah tentang jilbab, belum pernah mencobanya sendiri!
Mari kita uraikan satu-satu.
Membatasi dalam hal sekolah? Toh banyak wanita berjilbab yang jadi doktor atau professor. Banyak juga kutemui wanita-wanita berjilbab yang berprestasi. Dari pengalamanku sendiri, berjilbab bisa juga dapat visa kuliah di LN. Bisa juga kok dapat nilai bagus, bisa juga jadi asisten dosen, bisa juga dapat kepercayaan dari dosen-dosen. Bisa juga diundang presentasi ke forum2 dalam dan luar negeri, bisa juga diundang jadi narasumber. So, membatasinya dimana?
Membatasi dalam berorganisasi? Banyak juga wanita berjilbab yang memimpin organisasi. Saya juga mempunyai pengalaman yang sama. Bisa juga diundang dalam forum-forum nasional dan internasional. So?
Membatasi dalam mendapatkan pekerjaan? Aduh, banyak koq wanita berjilbab bekerja. Saya sendiri kerja di perusahaan asing, no problem tuh.
Kalo tidak dapat kerja jangan nyalahin jilbab dong. Lagian tidak pake jilbab juga banyak yang tidak diterima kerja koq. Kalo memang pernah ditolak kerja gara-gara jilbab (saya pernah punya pengalaman ditolak part-time), ya itu ujian dari Allah. Dan pastikan anda harus lulus!!!:)
Setiap orang kan ujiannya beda-beda, siapa tahu waktu itu lewat jilbab.
Yang jelas, tidak setuju kalo jilbab membuat kita tidak bisa bekerja. Toh buktinya bahwa wanita berjilbab yang bekerja sudah banyak kan?
Membatasi dalam bergaul? Ok, kita bicara dari pengalamanku ni ya. Sama sekali ga membatasi tu. Saya punya banyak teman dari berbagai negara dari ivory coast sampai tonga atau samoa, dari jewish sampai yang ga punya agama, dari gay sampai lesbi (yang bener? hehe), pokoknya saya punya banyak temen yang gaya dan prinsip hidupnya berbeda dengan saya, tapi tetep aja tu temenan. Dan surprise-nya, justru teman-teman itu kalo sedang punya masalah, curhatnya ke aku, dan aku jadi sadar bahwa manusia tu punya fitrah, dan yang bisa men-guide manusia sesuai fitrahnya tuh ya Islam. Kadang jelas banget masalah2 yang mereka hadapi itu sumbernya karena mereka ga punya guidance of life. Dan sering dengar komentar dari mereka, "Bener juga ya Meg prinsipmu. Aku jadi ngerti kenapa kamu...bla...bla".
Saya sering maen ma temen2, abis ngobrol, mereka berangkat clubbing. Dan sampai saat ini belum pernah ikut sih hehe.
Pokoknya dari pengalaman saya sih, justru mereka itu akan sangat menghargaimu dan prinsip2 hidupmu.
Kalo membatasi dari pergaulan yang salah, ya malah bagus kan? Mabuk-mabukan, sex bebas dll.
Sampai saat ini saya belum pernah clubbing ya mungkin karena jilbab juga lho. Sebetulnya sering mikir, pingin sekali-sekali ikut pergi..hehe, pingiiin tau! Terakhir kemarin malem ni, temen2 pergi clubbing, tapi akhirnya aku ga ikut, karena capek banget abis dinner party ma mereka. Pokoknya kalo mo clubbing tu mikirnya pasti capek tuh lho, kan mesti sampai pagi. Lagian males banget bawa pulang temen2 yang mabuk. Ah tidak...!
Membatasi jodoh? Kalo dibatasi jadi mendapat jodoh yang baik kan gpp kan. Mempermudah seleksi. Wis tenan kalo masalah ini benar-benar terbukti efektivitasnya hehe. InsyaAllah jadi ga diganggu cowok iseng deh.
Oh ya 10 hari terakhir ini aku dapat pengalaman menarik. Ada 3 cowok minta dibantuin cari jodoh (tapi aku bukan biro jodoh-red). Dan 3 cowok tersebut standard lah, suka flirting, suka merayu cewek, peluk sana peluk sini gitu lah. Tapi surprise-nya, ketika aku tanyain kriteria mereka, koq ya kriteria mereka tuh "gadis baik2", bukan tipe cewek2 yang bisa di-flirting-in ma mereka. Jadi ketika aku mengajukan nama2 cewek di lingkungan pergaulan mereka, langsung bisa out semua gitu. "Cewek yang bs diajak jalan dan diajak menikah kan beda, Meg". Oh I see..., batinku. Jadilah susah banget nyariin jodoh buat mereka, sedang di satu sisi pingin bantu sih, kayaknya sudah desperate gitu mereka hehe. Lagian sepertinya mereka bisa kembali pada" jalan yang benar". :D Ada yang tertarik? Tiga-tiganya bukan orang indonesia dan bukan orang Jepang, bersedia menikah with any nationality hehe.
Membatasi dalam hal apa lagi ya? Having fun? Hehe bisa aja lagi. C`mon, we are happy and having fun too.
Sudah terlalu lama jilbab disalahartikan. For those who are seeking only His Grace and affection, InsyaAllah you will find peace in your heart. InsyaAllah, jilbab itu anugerah dan kasih sayang Allah untuk perempuan.
Wah mega sudah bisa ngomong begini dengan mantapnya, diblog lagi hehe, semoga mulai saat ini pun bisa menghadapi ujianNya dengan sebaik-baiknya. Untuk saudara-saudara muslimahku, sudah saatnya kita buktikan eksistensi kita. Untuk saudara-saudara muslimahku yang hidup menjadi minoritas, keep on fighting!
"kita berusaha yang terbaik, dan insyaAllah Allah pasti kasih kemudahan"
Oh ya bener tu Allah pasti kasih kemudahan, yang saya sebutkan tadi kan cuma fakta-fakta ya. Tapi sebetulnya akan banyak "romantisme" denganNya dalam prosesnya. Pokoknya it is amazing, and sometimes unbelieveable deh tentang gimana Allah memudahkan jalanmu. Find it out by yourself!
Mega
-semoga bisa sedikit menjawab request selama ini-
Subscribe to:
Posts (Atom)