Saturday, June 10, 2006

Hutang kita terhadap JOGJA

ps: aku suka tulisan ini.

HUTANG KITA TERHADAP JOGJA
Film Janur Kuning memang dahsyat! Film yang digarap tahun 1980-an mampu menggoreskan optimisme anak anak SD se-usiaku saat itu tentang apa arti pantang menyerah. Indonesia hampir kolaps. Meski sudah memproklamirkan diri sebagai negara merdeka, Agresi I dan II (1947-1948) oleh Belanda seolah-olah membuat proklamasi yang dibacakan Sukarno itu sia-sia. Tapi dengan sedikit tentara yang tersisa, Jogja saat itu ibu kota negara, selama 6 jam berhasil dikuasai tentara rakyat. RRI selama beberapa jam mengumandangkan pekik "Merdeka" dan mengumumkan dengan bangga ke dunia internasional bahwa Indonesia masih ada! Andai saja 6 jam di Jogja tak terealisasi, mungkin Konfrensi Meja Bundar yang mengantar penyerahan teritori Indonesia dari Belanda tidak akan pernah ada. Sayang, film itu terlalu menonjolkan ketokohan Suharto. Bukan Panglima Sudirman yang sesungguhnya mempunyai andil besar dalam perlawanan yang heroik itu.
Mengenang Jogja adalah mengurai arti perjuangan. Bukan hanya karena kota ini sarat akan sejarah berdirinya Republik Indonesia. Tapi Jogja adalah kota perjuangan dalam arti yang sesungguhnya. Siapapun yang pergi Jogja mempunyai sebuah harapan untuk masa depan yang lebih baik, cita-cita yang tinggi, terutama dengan menyelesaikan studi di perbagai perguruan tinggi di Jogja yang mencapai lebih dari seratusan. Jogja tidak menjanjikan uang sebanyak di Jakarta, atau bahkan kota kota besar lainnya di Jawa. Kalau anda pengusaha, mungkin Jogja bukanlah alternatif yang tepat untuk mengembangkan usaha, kecuali mau mempertimbangkan pengeluaran mahasiswa yang pas-pasan.. Demikianlah, karena sebagian besar mahasiswa saya yakin juga hidup dalam kondisi perjuangan; Pengeluaran dan pemasukan yang selalu diawasi oleh orang tua.
Bagi yang kuliah sambil bekarja tentu harus lebih prihatin lagi karena gaji UMR di Jogja sangat rendah. Lebih rendah dari kota besar lainnya di Jawa. Saya pernah bertanya pramuniaga di Matahari Malioboro, Mirota Kampus Kaliurang, para penjaga counter HP di Ramai Malioboro, penjaga warnet di sekitar UII, dan penjaga wartel di beberpa tempat. Gaji mereka sebulan sekitar Rp 200-300 ribu. ($25-35), padahal penjaga counter pakaian di Grage Mall Cirebon itu Rp 400 ribu... Oh ya, teman saya yang kerja di kantor PLN juga becerita gajinya Rp 200.ribu. Tapi aneh semua yang saya tanya apakah cukup, semua mengatakan "ya dicukup cukupin-lah". Lebih aneh lagi adik kelas saya yang pernah nyambi sebagai ustadzah di sebuah pesantren di Jogja gajinya cuma Rp 75 ribu ($7,5) sebulan (th 1999an) dan dia berhasil tidak meminta kiriman rutin dari orang tuanya. Jangan silau dengan mahasiswi mahasiswi cantik Jogja yang nyambi jadi pelayan di restauran atau counter counter HP. Gajinya tidak seberapa di bandingkan kota lain, apalagi di Jakarta misalnya. Oh ya, saya ingat gaji teman saya hanya lulus SMA yang jadi buruh non skill di Bekasi itu sekitar Rp 800 ribu. Di Jogja, gaji sebesar itu lumayan bagus untuk bulan-bulan pertama lulusan S1 Jogja. Saya pernah ngobrol dengan teman-teman lulusan UMY yang bekerja di bidang computer. Mereka terbengong-bengong dengan beasiswa bulanan saya di UGM yang jumlahnya melebihi gaji bulanan mereka. Saya baru tahu lulusan IT UMY -pun kalau belum established benar, bayarannya tidak lebih dari sekitar Rp 800 ribu. Teman teman S1 saya bilang "itu sudah gede mas.". Jadi di Jogja lulusan skilled S1 gajinya sama dengan buruh lulusan SMA di Bekasi.
Perjuangan, artinya menyiasati hidup. Meski hanya Rp 250 ribu ($30) sebulan mereka bisa hidup, bisa belajar, bahkan bisa juga sambilan buat pacaran haha... Pelayan cantik di Mirota itu ternyata tiap pagi dan sore diantar-jemput pacarnya. Temanku, Siregar dari Batak, hari pertama gajian biasanya makan di Rumah Makan Padang Sederhana yang sekali makan (dibungkus) tarifnya sekitar Rp 10 ribu. Tapi pertengahan bulan sudah nongkrong di angkringan. Tiap malam menikmati nasi kucing dan susu jahe hanya dengan Rp 2.500 (2,5 cents). Minggu terakhir biasnya dia akan mengurangi jatah makanannnya. Aku hampir pasti yakin pengeluaran mbak-mbak yang nyambi itu nggak cukup buat menjaga tata-rias dan penampilan yang harus segar setiap saat. Perjuangan itulah pelajaran yang sedang dijalankan oleh figur-figur mahasiswa di atas. Mereka berpikir bagaiamana menyiasati kekurangan kiriman dari rumah, atau menyambung hidup untuk meneruskan rencana cita-cita. Untungnya di Jogja banyak gerobak angkringan atau mbok-mbok yang menjual nasi beserta lauknya hanya sekitar Rp 2.000. (2 cents). Oh ya, saya dan teman teman biasa sarapan di si mbok belakang kost-ku. Nasi pake ayam suir-suir (sobekan daging ayam) hanya sekitar Rp 2.000. terkadang Rp 1.500 (1.5 cents). sudah plus pake air minum teh anget, hmmm, murah benar!. Tengah malam sekitar jam 01-03 kalau lapar banget tinggal pergi ke pasar Gejayan. Di lesehan midnite itu bisa makan sambel petai ikan, atau ayam dan sayuran seharga Rp 3.000-an.(3 cents) Bagi para mahasiswa, Jogja memang menyediakan semua fasilitas belajar untuk hidup dalam perjuangan. Angkringan yang murah dan nonstop setiap waktu. Mbok-mbok yang sayang dan perhatian sama mahasiswa. Pak RT yang tidak lupa mengundang slametan. Teman teman yang siap meminjami uang jika kiriman datang terlambat. Pacar yang juga tetap setia dan sabar meski lagi bangkrut. Kios kios rental VCD yang menyediakan film film bajakan penghilang stress. Para Romo dan Suster yang mau menghibur jamaahnya. Bahkan kata Emha Ainun Najib, pelacur pelacur Jogja itu murah murah juga menyesuaikan tarifnya dengan kondisi kota Jogja. Saat kos di Minomartani baru sadar kalau bapak semangku itu seorang germo di Sarkem. Katanya kalo mau, bisa datang kapan saja. "Banyak discount", rayunya. Aku yakin orang orang Jogja masih banyak menganggap hidupnya sama seperti saat nenek moyang mereka bersedia menjadi tameng Tentara Rakyat di hadapan serdadu Belanda. Mereka harus ikut melebur diri dengan perjuangan para pelajar dan mahasiswa untuk meraih cita citanya. "Teruskan kalian belajar untuk membangun negeri ini, biarkan kami yang menyediakan logistiknya...", mungkin begitu yang ada dalam benaknya. *** Masa "tirakat" bagi para pelajar mulai berhenti saat mereka sudah berhasil meraih degree akademiknya dan mendapatkan kerja. Hidup di Jogja atau di lain kota. Lain halnya dengan penduduk Jogja dan sekitarnya yang belum sempat meraih pendidikan tinggi dan hidup dalam ekonomi yang pas-pasan. Perjuangan dan tirakat bukan lah suatu fase hidup yang akan berakhir tapi sudah menjadi bagian hidup yang harus terus dijalani. Orang Jogja seakan sadar apa yang mereka lakukan adalah perjuangan mulia, berkorban untuk orang orang non Jogja dengan melupakan nasib mereka sendiri. Ibarat lilin mereka memberi penerangan tapi membiarkan mereka sendiri terleleh oleh api. Di sudut-sudut Malioboro kita bertemu orang jogja asli yang sepanjang hari menunggui becaknya mengais rezeki dari penumpang. Syukur ada turis yang mau naik becak. Jangan heran, hanya di Jogja yang punya tarif resmi becak. Di samping itu para penarik becak sangat lebih rapi dari pada tukang becak di Pantura. Mereka mau antri, atau mempersilahkan temannya mendapatkan penumpang. Aku tahu penghasilan mereka kurang dar cukup tapi demikianlah kehidupan harus di jalani. Anda perlu tahu, kalau ke Jogja tak usah ragu naik becak. Tarifnya sudah standar, aman, dan ramah karena mereka sebagian besar mendapatkan pembinaan dari dinas pariwisata Jogja. Setiap pagi, di saat para mahsiswa masih malas-malasan di atas kasur, orang Jogja selatan (Bantul Gunung Kidul, Purworejo dan sekitarnya) sudah memenuhi jalan mempersiapkan semua keperluan utama industri akademik Jogja. Tukang sapu, buruh pasar, cleaning service, penjual sayur, nasi, bubur ayam, security, buruh pabrik, tukang bangunan dan para pegawai rendahan lainnya berlomba memacu sepeda ontel dari selatan (Bantul dan sekitarnya) ke utara pusat kegiatan Jogja. Mereka yang tinggal di desa-desa banyak yang tetap mengais rezeki di sawah atau ladang menyediakan komoditas makanan dan sayuran. Pukul 6, Ring-Road utara biasanya sudah ramai suara hiruk-pikuk, senda-gurau dan saling sapa antar mereka. Agak siang sedikit orang Jogja yang sudah lebih baik pendidikannya berangkat kerja ke Supermarket, atau toko-toko bukan milik orang Jogja yang berjamuran di pojok-pojok kota, office boy di kantor-kantor, atau membuka dagangan di Malioboro. *** Jogja, dan orang orangnya punya karakter yang unik. Kenal mbah Maridjan 67 th penjaga gunung Merapi yang tidak mau turun gunung meski sudah diperintahkan Sultan Jogja?. Bagi dia berdo'a di kesunyian Merapi untuk keselamatan jiwa penduduk di punggung Merapi adalah kewajiban utamanya. Presiden SBY pun tak urung mengirim salam dengan mbah yang unik ini. Jawa, khusunya Jogja memang khas. Masih ada orang seperti mbah Maridjan. Jangan heran mungkin hanya ada di pasar Beringharjo Jogja, ada laki-laki (bertawaf) berkeliling pasar memakai pakaian kraton dan blangkon yang agak lusuh sambil membaca mantera. Tak sempat aku bertanya apa maksudnya, tetapi aku tahu ada 2 mantera; mantera untuk kebaikan dan mantera untuk kejahatan. Aku menduga laki laki itu sedang berdo'a untuk kebaikan pasar. Beberapa bulan setelah Tsunami melanda Aceh, ada kabar Jogja akan dapat giliran. Raja Jogja (tentu setelah berkonsultasi dengan penasihat spiritualnya) memerintahkan masyarakat untuk memasak sayur lodeh 7 macam (9 macam?) bahan sayuran. Tak ayal hari hari itu sulit mendapatkan bahan sayur lodeh di pasar. Aku ingat betul, keluarga dan tetangga temanku saat itu sedang sibuk memasak sayur lodeh. Temanku mengeluh tidak mendapatkan kacang panjang di pasar. Pagi-pagi sudah diserbu pembeli, katanya. Tsunami lawan sayur lodeh... unik bukan?! Damarjati Supajar, filosof Jogja dan penasihat pribadi Sultan sering mencoba merasionalisasikan arti sayur lodeh. Tetap saja susah dilogikakan. Yang jelas, masyarakat dari Wonosari di Gunung Kidul, sampai Kalikuning di Sleman percaya bahwa sayur lodeh telah meredakan tsunami. Mbah Maridjan, pria lelaku dan contoh2 lain di atas adalah ungkapan khas tradisi Jawa yang khas dan rumit menjelaskannya. Damarjati Supajar selalu memulai dengan bertanya; lahir itu ada dari mana? Kemudian dia akan menerangkan filosofi Alun-alun Utara, Selatan, Siti Hinggil sampai Istana Sultan yang menghadap gunung Merapi. "Bumi itu pusatnya di Jawa...", begitu mitos orang-orang Jogja. Nies Mulder dan Marx Woodward menekankan sisi mistis Jawa yang sangat kental, dan selalu menjadi warna tradisi masyarakat Jawa sama seperti para antropolog pendahulunya meski penelitiannya dilakukan di tempat lain sepeti Hefner (di Tengger) dan Geertz (di Pare). Kalau aku mencerna dari orang orang Jogja, filosofi Jawa adalah filsafat Urip mung mampir ngombe (hidup di dunia ini sekedar mampir minum). Artinya sekedar singgah di rumah teman, cafe atau warung kopi. Sekedar menghilangkan dahaga. Sebagaimana orang mampir, maka karakteristiknya; harus mencoba menikmati apa yang dihidangkan, hormat terhadap tuan rumah, tidak terlalu bernafsu untuk mendapatkan yang lebih, selalu mawas dengan tujuan hidup setelah mampir "ngombe" yaitu kehidupan sebenarnya di rumah masing-masing (alam setelah dunia). Saat mampir di rumah orang, orang Jawa tahu akan banyak hal terjadi, mungkin menyenangkan, mungkin menyedihkan, tapi orang Jawa harus tetap tenang karena ingat itu terjadi hanya sebentar dan sesaat. Pada waktunya semuanya akan berakhir. Bagiku mbah Maridjan, lelaki pembaca mantera dan sayur lodeh adalah local wisdom dalam rangka secara tradisonal melestarikan filosofi urip mung mampir ngombe.yang melingkupi jagat Jawa di Jogja khususnya.Bukan syirik! Mereka hanya mencoba secara kreatif mengelola secara tradisi hubungan mesra dengan Allah Gusti Pangeran yang mereka yakini. ***

Kini para penyokong perjuangan generasi bangsa itu sedang menangis. Handai-taulan dan rumah mereka terberai dalam kesedihan. Para nelayan di Bantul yang menyediakan ikan dan bahan sayuran untuk para mahasiswa masih dalam kesengsaraan. Mereka selama ini adalah pribadi-pribadi tegar yag membantu para pelajar mahasiswa, sarjana dan profesor-profesor tanpa memprotes berapapun sedikit gaji yang mereka terima.. Pribadi pribadi tanpa serakah itulah yang menjaga Jogja tetap menjadi kota yang nyaman untuk "perjuangan" para pelajar. Saya yakin orang-orang Jogja seperti mereka adalah orang yang kuat secara batin. Mereka tidak akan terlalu lama menderita dengan musibah ini. Mereka sudah terlatih dengan sikap "optimisme" hidup mung mampir ngombe. Tetapi kita semua, Republik Indonesia, harus merasa berhutang dengan Jogja dan orang orangnya yang telah berandil besar dalam sejarah Indoensia masa lalu dan masa kini. Dalam kehidupan pribadi atau bersama. Saya yakin salah satu dari profesor, gurunya profesor, guru, teman, suami, istri, pacar, bahkan selingkuhan anda pasti ada dan pernah berada di Jogja. Saat ini mungkin waktu yang paling tepat untuk membayar hutang kita terhadap JOGJA. ***

PANJATKAN DO'A DAN ULURKAN TANGAN UNTUK YOGYA & SEKITARNYA Kami tidak memberikan Nomor Rekening atau Posko Bantuan tertentu untuk Yogya & sekitarnya karena anda pasti sudah tahu dari media...

Saturday, June 03, 2006

"Lets Make Jogjakarta Shine Again"


Mega dsini. Asli Bantul, walo sekarang nan jauh di mato.
Mega disini, ingin ajak2 temen2 smua bergabung dalam teladan Solidarity Project.
Mega dsini, pingin teriak "Lets Make Jogjakarta Shine Again"
see this:http://www.youtube.com/watch?v=7J0-xZAsVbc , and dont u feel that u need to do something for djogdja???
If yes, then proceed to the below passage!!!!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salam Teladan!!

4-11 Juni 2006, satu minggu ke depan ini, sebuah project solidaritas Teladan akan digelar. dipelopori angkatan 2002, project ini bertujuan:
1. Mendata korban2 gempa djogja dari keluarga teladan (keadaan keluarga. rumah, desa)
2. Memberikan bantuan untuk keluarga teladan
3. Memberikan bantuan untuk yang membutuhkan.

Sebetulnya tim TSP ini sudah bergerak sejak seminggu yang lalu (http://zean-vision.web.ugm.ac.id/earth-quake/
http://www.youtube.com/watch?v=7JO-xZAsVbc), namun melihat keadaan dan banyaknya keluarga teladan yang menjadi korban, 1 minggu ini, mengajak seluruh keluarga besar teladan, untuk berpartisipasi.

Kenapa cuma 1 minggu? sebetulnya tidak terbatas satu minggu saja, namun mengingat keterbatasan kita, bahwa kebanyakan kita masih duduk di bangku kuliah, setidaknya mari kita mulai dengan 1 minggu ini.

MARI KITA SAMA-SAMA BERGERAK!!!


Project solidaritas teladan ini terbagi menjadi 4 tim, silakan pilih mana yang cocok.
Silakan baca detail project dibawah ini. Dan silakan hubungi contact person untuk berpartisipasi. Serta...silakan ajak temen2 lainnya, dan forward email ini seluas-luasnya.

Angkatan 2002

PS : yang ikut milis KATY tolong forward dan kampanyekan!


Teladan Solidarity Project (TSP)
Yogyakarta, 4-11 Juni 2006
Basecamp: Jl. Jend A.Yani No.24 Bantul, Yogyakarta
Telp: 0274-367255


Yth Seluruh Keluarga Teladan dimanapun berada,

Seperti kita ketahui bersama tanggal 27 Mei 2006 lalu gempa yang cukup keras terjadi di DIY, dengan lokasi terparah di Kabupaten Bantul. Dan seperti kita ketahui bersama juga mayoritas keluarga Teladan berasal dari djogdjakarta, sehingga banyak sekali kawan, saudara, bapak ibu guru kita yang menjadi korban. Tak hanya banyak kawan kita yang kehilangan tempat tinggal, namun beberapa teman kita juga kehilangan orang-orang terdekatnya (dari data yang kami himpun, beberapa teman kehilangan kakek atau neneknya)
Melihat kenyataan ini, sudah sepatutnya seluruh keluarga teladan bahu membahu membantu saudara kita yang menjadi korban. Apalagi untuk Bapak Ibu Guru yang sudah sedemikian berjasa pada kita. Kami yakin bahwa masing-masing dari kita telah bergerak membantu, hanya saja belum ada koordinasi atau fokus untuk keluarga teladan.
Namun melihat perkembangan, akan banyaknya kawan kita yang perlu bantuan. Kami Teladan Angkatan 2002 (Tjakra) mengajak kawan-kawan semua untuk bergabung dalam Teladan Solidarity Project (TSP), tanggal 4-11 Juni 2006. Selama periode 1 minggu itu, mari kita bahu membahu mengecek keadaan teman kita, dan memberikan bantuan secepatnya. Sebetulnya, tim TSP sendiri sudah bergerak terhitung sejak Gempa + 6 jam, dengan pengumpulan dana di Jepang, dan hari minggu 28 Mei 2006 dengan distribusi logistik di Bantul. Kami, angkatan 2002, hampir selesai mendata seluruh anggota angkatan, dan mengecek keadaannya, termasuk mengirimkan bantuan secepatnya. Kami menilai bahwa dengan mengutamakan bantuan ke keluarga teladan, bantuan bisa lebih efektif. Tak jarang, bantuan tidak hanya ke keluarga teladan, tapi akhirnya juga ke desa dimana keluarga teladan tinggal. Walau focus di keluarga teladan, tentu saja tetap terbuka menolong siapa saja yang membutuhkan. Flexible but Focus!!!
Untuk itu, sekali lagi kami harap partisipasi seluruh keluarga Teladan. Sementara ini partisipasi bisa dilakukan dengan menjadi:

1. Tim Lapangan
Tim ini bertugas melakukan survey keadaan anak Teladan, mendata kebutuhan, mendistribusikan bantuan, atau menggunakan keilmuannya untuk perbaikan keadaan dari segi mental maupun fisik.
Untuk bergabung hubungi:
Sahal (+62 8562936915)
Adhy (08562045590/ 081322902295, adhy_sb@yahoo.com),

2. Tim Procurement

Tim ini bertugas mencari barang-barang bantuan yang dibutuhkan, dan memastikan stok di basecamp. Serta mengupdate informasi barang yang dibutuhkan, sehingga donatur punya bayangan apa yang dibutuhkan di lapangan.
Untuk Partisipasi hubungi :
Neta ( +62 8562884004)
Rian: (0811255716)

3. Tim Dana
Tim ini bertugas memastikan supply dana untuk kebutuhan operasi tim dan barang bantuan. Untuk sementara ini, aliran dana utama berasal dari kas Tjakra, dan aliran dana dari Jepang. Dalam keadaan darurat ini, dana juga merupakan kebutuhan yang sangat krusial. Jadi permohonan khusus untuk Bapak Ibu keluarga teladan yang sudah lulus, dan berpenghasilan, untuk sebisa mungkin berpartisipasi. Sekecil apapun, dengan jumlah ribuan anak teladan, dana bisa menjadi besar.
Pengiriman dana bisa dilakukan:

Indonesia
Contact Person = Neta ( +62 8562884004)

Dyan Garneta
Bank Mandiri Syariah
Cabang Yogyakarta
No rek. 0300034332

Jepang:
Contact person: neno (080-5214-9179, neynoh@yahoo.com)

Sumitomo Mitsui Banking Corporation
Oita Branch
Nila Rau Fanza
721 1103213

atau

Hoshizora Community
POSTAL Kamegawa Branch
17250 16267151

4. Informan
Bagi siapa pun juga yang mengetahui keberadaan anak Teladan yang membutuhkan bantuan, harap melaporkan pada;
Tika: (08122797369)
Atau barang siapa yang membutuhkan bantuan dana atau barang (tidak terbatas keluarga teladan), silakan hubungi:
Nila (081329902990)

Demikian proposal singkat ini. Dari hati yang terdalam, kami angkatan 2002 ikut berduka untuk gempa bumi djogdjakarta 27 Mei 2006.
Besar harapan kami, partisipasi dari seluruh keluarga teladan, dimanapun berada, untuk membantu Tim Solidaritas Teladan. Kami yakin, sedikit yang bisa kita lakukan ini akan sangat membantu teman-teman kita yang sedang kesusahan. Dalam keadaan seperti inilah seharusnya terasa kebersamaan kita sebagai sama-sama anak Teladan. Dalam keadaan seperti inilah seharusnya kita bergandeng tangan, saling Bantu membantu… coz we are the big family of SMU 1 Teladan Yogyakarta.

Salam Hormat,

TJAKRA (Angkatan 2002)

dokumentasi:
http://zean-vision.web.ugm.ac.id/earth-quake/
http://www.youtube.com/watch?v=7J0-xZAsVbc


Contact:
Djogdja: Tika: (08122797369)
Bandung : Igun (085624197317 gunawan.prasetia@yahoo.com)
Jakarta : Prakosa (081578818286)
Jepang : Reky Martha (08052646595, oenthel@yahoo.com)

Monday, May 15, 2006

What I call "LOVE"

Morning...!

check out this video http://www.youtube.com/watch?v=oJhptvpL4VI . This is our video in Sri Lanka. One of my friend voluntarily uploaded it.
I just wanna share to all of u, what I call LOVE, what friends for, and what truly happiness is. Enjoy!!!

Kono Deai wo taisetsu ni shite
Kore kara mo zutto issyouni
Egao de gambatte ikimashoooo!

mega
-lovethislife-

Saturday, May 13, 2006

Not Yet a tough woman

Today is a rainy day. My first holiday in the last one month, so i was able to wake up late, .. intentionally! I have to go to school and continue my thesis research today though. ;)
I took 11 am train, and arrived at school around 12. Today, my school has welcome festival for freshmen. I took my time to walk around and I stopped by in my circle booth. They are selling Nasi Goreng, and Chai. I taught them how to make Nasi Goreng last Monday. But, when I came, seems they had a lot problems, and still not sure about how much salt they have put, and etc. So I cooked Nasi Goreng once more time just to give them more confidence;). Hmm... many people queue up waiting for my nasi goreng ;)
I met my friend, and confirmed about editing room we book. She needs to edit the Ai No Nami video. We talked, and found out that she cant do it during the time I booked, so I have to go to Central security office and negotiated for the time changing. I had to wait for sometimes but finally they allowed me to change the time. I went back to my friend, and handed in the key.
The next place I go was library. I went there to take the books I ordered. Wow, i found the books are really really interesting. The time I finished my library business, it was already the Dhuhur time. Ahaa... time to pray. I decided to pray in library, thus I proceeded to the hidden place at the corner, and prepared to pray.
I put all my luggages on the floor, and about to start praying, when a mid-age woman came by, and said:
"Excuse me, you cant pray here!"
I heard many times that we cant pray in library before, but this is my first time caught by the librarian herself. And actually I do know that my university prohibits any religion activities anywhere in the campus, so I said:

"Sorry, so do u know where I can pray?"
She answered, "there is no place at this school u can pray"
"there is no single place in this school I can pray?"
"Yes. u cant pray here at campus, our school prohibits any religion activities... bla...bla...bla"
"I understand!" i closed the conversation and she says, "Please..!"

When she is about to leave, i asked again, "excuse me, can I pray here just for this time. One time only!"

"NO!" and she left.

I was not able to stand anymore, and started crying. I dont know why i start crying, i could not describe what I feel, but i am so sad. I felt so sad. it hurts me when she is saying that I cant pray. Why? Dont ask me, it is really sad to hear that.
No body was there. I was trying to be tough, and stopped crying, and went out from library.
I went to the next building, entered the toilet, and here it is, a small fitting room in the toilet. It is clean place, so I prayed there. Tell u the truth, many students pray there. Although some people say, "But it is in toilet" i think it is the most private place.
i closed the small fitting room door, and started crying again. Dont ask me why and dont say that i am a crybaby, huh although it is up to u, and i dont care if u say that.
After I succed to control myself, i started praying. Then after that, I took my time to think about what was happened. Yes, i just feel that I cant accept if they prohibits us to pray. why dont we talk about human rights? Dont we have a right to practice our religion? what this school is trying to do?? So i decided to go back to the library, and talked with them. No, not to ask for my right, coz I know that she is just doing her job, i just feel that i have to do something. I cant stay, and do nothing. I have to do something!!!!
I talked to the woman,
"I want to talk about what was happened. I feel that i need to talk to the person in charge."
"sorry...sorry if i was rude" she said
"No problem. I just want to discuss about the matter."
"Today is saturday, so there is no person in charge right now"
Then she wrote down my name and ID number, and she said someone will call me.

Yes, i am waiting for their call. And i promise myself that i will do "something that i can do". I will fight for it before i graduate from this school.

I promise...

mega
 
Lilypie Maternity tickers